Kamis, 18 Juli 2013

MELIHAT KONDISI DAERAH DI JALAN PERJUANGAN

MELIHAT KONDISI DAERAH DI JALAN PERJUANGAN
Jorong Sikabu-Kabu, Nagari Sikabu-Kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak, Limapuluh Kota 
Limapuluhkota - Perjuangan nampakanya belum berakhir sempurna, jika melihat kesejumlah daerah yang dulu menjadi basis, kantong atau daerah-daerah yang memiliki jasa besar untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebab  keterbatasan infrastruktur,  masih terlihat di salah satu pemukiman penduduk di atas pucak bukit Talang di Jorong Sikabu-Kabu, Nagari Sikabu-Kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak, Limapuluh Kota. Padahal di daerah perbukitan ini dulunya di jadikan para pejuang sebagai tempat pertahanan dari serangan-serangan penjajah.

Sejumlah bocah kecil berseragam Merah-Putih menenteng sepatu, melintasi salah satu ruas jalan tanah berlumpur saat menuju sekolah mereka, pagi itu. Jalan yang sama juga di gunakan oleh para pejuang dulunya untuk menghindari musuh saat memperjuangkan kemerdekaan. Kondisinya sama sekali tidak berbeda antara dulu dengan sekarang. Hanya saja kini tidak ada lagi desingan peluru dan ketakutan akan di berondong tembakan yang membuatnya berbeda. Sementara lumpur jalan yang cukup kental saat musim hujan tetap sama beceknnya. Tentunya masih sangat orisil tanah yang di injak para pejuang untuk merebut kemerdekaan jadi saksi sejarah, di salah satu daerah yang berjarak sekitar 9 kilometer di Selatan pusat Kota Payakumbuh itu. Sebab tanah tersebut belum pernah sekalipun di sentuh pembangunan, sejak zaman pejuang bergerilya guna merebut  kemerdekaan dari Belanda, saat pendudukan Jepang, zaman kemerdekaan, Orde Lama (Orba), Orde Baru dan Era Reformasi. Padahal dari cerita sejumlah warga dan saksi maupun pelaku sejarah, Talang merupakan benteng pertahanan yang cukup kuat dengan letaknya yang strategis. Tidak itu saja, bahkan pada masa perjuangan tersebut daerah yang berada di kaki gunung Sago ini, merupakan jalur aman mobilitas para gerilyawan. Sebab berada dekat dengan kawasan hutan sebagai persembunyian, jika sewaktu-waktu terjadi serangan mendadak dari tentara musuh. Bahkan menurut cerita salah seorang pejuang yang sempat bergabung dengan Fisabillah, Rasidin Datuak Paduko, 84 di Talang terdapat sebuah asrama darurat untuk Tentara Nasional Indonesia. Meski tidak di abdaikan degan monumen sejarah. Namun tempat itu kini telah di bangun sebuah Mushola dengan nama mushola "Pejuang 45". Tempat ini menunjukkan di daerah yang memiliki sekitar 40 kepala keluarga atau dua ratus lebih penduduk itu, menjadi salah satu basis perjuangan. "Di tempat bangunan mushola pejuang 45 itu, dulu adalah sebuah asrama sementara bagi para pejuang kemerdekaan. Saat Belanda masuk ke Payakumbuh, tentara nasional terpaksa mudur ke daerah ini,"ungkap Rasidin Datuak Paduko. Selain lurah Kincia di Situjuah Batua, sejumlah tempat didaerah ini, juga menjadi tempat menyusun strategi perjuangan. Salah satu tokoh pejuang yang masih menjadi bagian cerita sejarah di nagari Sikabu-kabu adalah Kapten Haji Amir. "Haji Amir adalah salah satu pimpinan kami, dia berpangkat Kapten di kesatuan Singa  Harau,"ucap Rasidin sambil  mengingat kembali. Sebagai saksi sejarah perjuangan melawan penjajahan masa itu, di sini juga terdapat sebuah benteng pertahanan semacam parit yang di gali di tanah sebagai pertahanan. Tempat itu, di kenal masyarakat setmpatdengan nama "Lubang Ase". Dari sini, sejenis senjata mesin yang dinamakan Ase yang mampu memuntahkan ratusan peluru dalam hitungan menit itu, di tembakkan. "Ase itu merupakan sejenis senapan mesin yang di letakkan di tanah dengan peluru sebesar jari kelingking orang dewasa. Bila Ase berbunyi biasanya juga membuat ciut nyali tentara Belanda,"ungkap pejuang yang mengaku hanya menerima uang veteran sebesar Rp 48 ribu setiap bulannya itu. Sayangnya tempat itu, tidak di pelihara sebagai saksi sejarah, sehingga mulai menghilang di tumbuhi semak belukar. Dari tempat itulah para pejuang melakukan pertahanan bila tentara musuh mulai memasuki perkampungan penduduk. Desingan peluru dari Ase, juga membuat ciut tentara musuh yang coba memasuki daerah di kaki gunung Sago itu. Warga di nagari Sikabu-kabu masih mendapatkan cerita bahwa penembak yang terkenal hebat menggunakan Ase tersebut, bernama Muat atau yang lebih dikenal dengan Muat Ase. Sayang pejuang ini, di kabarkan juga sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Tidak hanya mereka yang angkat senjata, sejumlah warga di kawasan ini juga memiliki jasa besar terhadap kemerdekaan. Sebab mereka menyediakan makanan  untuk para pejuang atau semacam dapur umum. Sehingga setiap pejuang yang melintas di kawasan ini, bisa mendapatkan makanan untuk terus bertahan hidup dalam perjuangan melawan penjajah. Sayangnya kawasan ini, sangat terlambat di sentuh pembangunan, bahkan masih ada jalan sepanjang 500 meter yang menghubungkanya ke nagari tetangga sama sekali belum di lapisi aspal alias jalan tanah. Pelajar di daerah ini terpaksa harus menenteng sepatu mereka untuk menuju sekolah mereka pada saat musim hujan seperti saat ini. Meski sudah ada sebagian jalan yang sudah  di lapisi aspal sejak beberapa tahun terkahir. Namun belum tuntas, dalam artian masih ada sekitar 1,5 kilometer lagi yang perlu di lapisi aspal hingga bisa jalur ini menghubungkan nagari Sungai Kamuyang dan Nagari Sikabu- kabu Tanjung Haro secara utuh. Soal penerangan jalan masyarakat sudah bisa menikmatinya, sejak tujuh bulan terakhir. Kendati demikian jika di bandingkan dengan lamanya Indonesia merdeka penerangan yang di nikmamati masyarakat cukup terlambat. "Sekarang kita hanya berharap jalan sepanjang 500 meter lagi, agar siswa tidak lagi menenteng sepatu kesekolah saat musim hujan,"harap Hardinaton, 32 salah seorang warga Talang, Jorong Sikabu-kabu. Masih adanya jalan di sepanjang jalan perjuangan di kedua daerah tersebut, di benarkan oleh Sekretaris Nagari Sikabu-Kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Mulyadi. Menurutnya jalan perjuangan seharusnya, sudah lebih baik. Sehingga jasa perjuangan yang dilakukan oleh sejumlah pejuang di daerah itu untuk Indonesia bisa di rasakan hasilnya. "Perjuangan belum berakhir, hanya saja perjuangan kita bagaimana pembangunan di daerah yang ikut dalam upaya perjuangan dapat menjadi perhatian pemerintah secara maksimal,"ungkapnnya. Menurut Mulyadi, terdapat beberapa pejuang di daerah ini, seprti Kapten Haji Amir, Angku Mudo Main, Haji Kutar, Rasidin Datuak Paduko, Rusli dan sejumlah pejuang lainnya.(fi)- http://www.limapuluhkotakab.go.id/berita/277/melihat-kondisi-daerah-di-jalan-perjuangan.html

 

Kecamatan Luak

GEOGRAFIS
Luas Kecamatan mencapai 61,68 Km2 yang berarti 1,84 % dari luas Kabupaten Limapuluh Kota 3.354,30 Km2 yang terdiri dari 4 nagari dengan 34 jorong. Nama nagari dan jorong sebagai berikut :
  1. Nagari terluas adalah Nagari Sungai Kamuyang dengan luas 30,37 Km2 terdiri dari 9 jorong, yaitu :1) Tabing, 2)Tanjung Kaling, 3)Koto Baru Batang Tabik, 4)Anam Kampuang, 5)Delapan Kampuang,6) 12 Kampuang, 7)Rage, 8)Manang Kadok, 9)Subaladuang,
  2. Nagari Tanjung Haro Si Kabu-Kabu dengan luas 13.87 Km2 terdiri dari 6 jorong,yaitu :1) Sikabu-kabu, 2)Lakuak Dama,3) Bukik Kanduang,4)Tajuang Haro Utara, 5)Tajuang Haro Selatan,6) Padang Panjang.,
  3. Nagari Mungo dengan luas 11,04 Km2 terdiri dari 11 jorong,yaitu :1) Indobaleh Barat, 2) Indobaleh Timur, 3) Pincuran Tingi, 4) Koto Bakuruang, 5)Batu Labi, 6) Talaweh, 7) Bukik Gombak Sintuak, 8) Tanjuang Tangah, 9)Balai Gadang Ateh, 10) Balai Gadang Bawah, 11) Kayu Bajajar Padang Laweh.,
  4. Nagari Andaleh dengan luas 6,4 Km2 terdiri dari 8 jorong, yaitu :1) Kapalo Koto, 2)Tarok, 3) Tabek Buruak, 4)Kampuang Tangah, 5)Pincuran Gadang, 6) Galo Gandang, 7)Tanjuang Baruah, 8)Baliak Bukik .
Batas Kecamatan Luak adalah sebagai berikut: Sebelah Utara dengan Kecamatan Harau, Selatan Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Timur Kecamatan Lareh Sago Halaban dan Barat dengan Kota Payakumbuh. Ibu Kecamatan Pakan Sabtu.
TOPOGRAFI
Topografi Kecamatan Luak adalah bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian dari permukaan laut (dpl) terendah di sekitar Batang Sinamar Nagari Mungo ( 510 m) dan tertinggi di Gunung Sago Nagari Sungai Kamuyang (2.076 m). Di Nagari Sungai Kamuyang mempunyai Bukit Kaciak dan Bukit Gadang, Nagari Andaleh mempunyai Bukit Panjang,Kaciak dan Gadang, Nagari Mungo mempunyai Bukit Pencerminan, Nyamuk, Panjang dan Sigalung, serta di Nagari Tanjung Haro Si Kabu-kabu mempunyai Bukit Sikaladi, Alang Laut,Talang, Kanduang dan Sibabua.
Kecamatan ini mempunyai Batang Sinamar yang merupakan batas nagari dengan Kecamatan Harau , dan anak sungai yang ada di Kenagarian Tanjung Haro Sikabu-kabu yaitu B. Buang,B. Baih,B. Pulai, dan B. Pinago di Kenagarian Sungai Kamuyang yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk sumber irigasi sawah dan untuk kolam.
SEJARAH MENURUT TAMBO
Dalam Tambo Luhak Limopuluah yang disebut nan barih balabeh Luhak adalah antara Mungo Mudiak sampai ke Limbukan Hilia. Yang menjadi Raja di Luhak adalah Dt. Marajo Indo Nan Mamangun berkedudukan di Aie Tabik .
Disamping itu di Luhak terdapat orang berlima badunsanak, pada adat pusakanya untuk menggengam barih balabeh menjadi Sangsoko adat, yaitu :
  1. Dt. Rajo Malingkan sebagai tampuak tangkai adat di Mungo, kebesarannya di Mungo dan Koto Kaciak,yang beranak ke Subaliak Aie.
  2. Dt. Panghulu Basa sebagai pusat jala pumpunan ikan di Andaleh, kebesarannya di Andaleh dan Tanjung Kubu, yang beranak ke Banda Tunggang.
  3. Dt. Rajo Malano sebagai orang tunggal memegang adat di Sei Kamuyang, kebesarannya dari Sawah Tangah Mudiak sampai ke Kaki Gunung Sago Hilir yang bernama “ Talua tasapik di batu, kalau manateh jadi hantu, tidak manateh jadi batu “.
  4. Dt. Paduko Sinaro sebagai tangkai sepanjang adat di Aua Kuniang, kebesarannya di Aue Kuniang dan Tanjuang Patai, beranak Ke Gadih Anggik.
  5. Dt. Paduko Alam sebagai tumpuan sepanjang adat di Limbukan, dengan kebesarannya di Limbukan, Padang Karambie dan baranak ke Limau Kapeh.
Kelima tersebut di atas dikenal dengan sebutan anak jajatan, apabila diadakan keramaian atau musyawarah akan hadir seluruhnya di Balai Jariang di Aia Tabik. Dalam barih balabeh Luhak Limapuluah disebutkan bahwa Luhak mempunyai “pintu nan tujuah” atau “ tabantang jalan nan tujuah “ yang artinya mempunyai penghulu sebanyak tujuh orang yang berjabatan sepanjang adat di Balai Jariang,yaitu : 1) Dt. Damuanso, 2) Dt. Gindo Malano, 3) Dt. Rajo Mangkudun,4) Dt. Bandaro Sati, 5) Dt. Majo Indo nan Mamangun, 6)Dt. Paduko Majolelo, 7)Dt. Marajo Nan Rambayan.
Adapun DT. Rajo Malano adalah orang Aie Tabik nan babako kalimo suku, yang kebesarannya sebagai “ timbangan adat “ di Balai Jariang. Sementara orang lima suku tersebut adalah : Dt. Domuanso, “ gandang parang “ kebesarannya.Dt. Marajo nan Rambayan “di pangka titih” pegangannya, Dt. Bagindo Malano “ arak iriang “ pegangannya,Dt. Majo Indo nan Mamangun “aguang panguek, talempong kato”kebesarannya,Dt. Rajo Mangkudun “ Kitabullah “ pegangannya.
Di samping itu ada dua lagi yang berfungsi sepanjang adat di Balai Jariang, yaitu : 1) Dt. Paduko Majolelo,” banamo rumah nan gadang” yang funsinya untuk menyambut tamu dari basa ampek balai. 2)Dt. Bandaro Sati”manimbang hutang pusako” kepada orang tiga balai.
Yang disebut orang tiga balai adalah : Dt. Marajo Cek Indo, DT. Bandaro Sati, Dt. Gindo Malano. Balai Jariang mempunyai anak balai,yaitu : Balai Janggo, Balai Tangah, Balai Jirak, Balai Bodi, Balai Indo Dunie. Balai Indo Dunie diperoleh karena diminta. Jika ada penobatan di Balai Jariang penghulunya dari Balai Batimah, dubalangnya dari Balai Gadang.
ZAMAN BELANDA
Zaman Belanda Ulayat Luhak merupakan 2 Kelarasan dari 13 Kelarasan yang ada di Payakumbuh.Pertama Kelarasan Limbukan ( Nagari Limbukan, Aie Tabik, Sungai Kamuyang, Tanjung Haro Sikabu-kabu ) dengan Tuanku Larehnya berturut-turut adalah 1) Raja Batenang Dt. Paduko Alam, 2)Abdul Rahman Dt. Tumanggung nan Hitam ,dan terakhir 3) Raja Pamenen Dt. Paduko Alam.
Kedua Kelarasan Payo Basuang ( Nagari Payo Basuang, Tiakar, Andaleh, dan Mungo ) dengan Tuanku Larehnya adalah 1) Dt. Muncak, 2) Dt. Rangkayo Basa nan Kuniang, dan 3) Lutan Dt. Mulia Nan Kuniang.
Setelah Kelarasan dihapus pada bulan Nopember 1914, maka Luhak dijadikan Distrik dari Onderafdeling Payakumbuh, Afdeling Limopuluh Koto. Distrik Luhak demangnya Nabi Ulah Dt. Bandaro ( asal Lareh Mungka Terakhir ) terbagi tiga Onderditrik ,yaitu :1)Onderdistrik Luhak, 2) Onderdistrik Halaban, 3) Onderdistrik Tanjung Pati. Wilayah Onderdistrik Luhak berasal dari Kelarasan Limbukan, Payo Basuang dan Situjuah.
ZAMAN KEMERDEKAAN
Kecamatan Luhak lahir setelah adanya Agresi Belanda II , yakni Tahun 1949 dengan 17 Nagari. Berdasarkan Perda No.14 Tahun 2001, tanggal 29 Oktober tentang Penataan Wilayah Kecamatan dalam Kabupaten Limapuluh Kota Kecamatan Luak merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Luhak (Luak, Lareh Sago Halaban, Situjuh Limo Nagari ) yang merupakan implikasi dari pasal 66 ayat 6 dari UU No 22 Tahun 1999 ,bahwa pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Peresmian Kecamatan Luhak menjadi Kecamatan Luak ini pada tanggal 26 Januari 2002 dengan camatnya Drs. M.Yunis Nama-nama Camat sejak Kecamatan Luhak diantaranya adalah : Mustafa Kamal, Bukhari Idris, A. Masri BA, Drs Erdi Ardin (80-82),Drs. Azhar Nur ( 82-82),Drs.Ismardi Ismail (82-88), Drs.Syahruddin (88-89),Drs Yurial (1990-1992), Khairul,BA, Drs. Syafrul (93-93), Drs, Syafrial Nazar (1994-1996), Drs. M.Yunis (1996-2002), Kecamatan Luak Drs. M.Yunis dan Yasni Karimi. BA (Agus 2002- 2004).Drs. Syahrial (2004-2007), Hendri Yoni. S.Sos (April-Juli 2007), Arwitas, BA (Juli 2007-Jan 2009 ), Harmen SH (Jan 2009- Desember 2010), sekarang ), Deki Yusman,S,STP (Januari 2011-sekarang)
AGAMA
Untuk menunjang kehidupan beragama di Kecamatan Luak terdapat fasilitas tempat ibadah berupa Masjid (26 buah), Mushala (31 buah). Masyarakat yang memeluk agama Islam 26.000 orang, dan Kristen Protestan 5 orang. Jumlah ulama 13 orang, mubalig 39 orang, penyuluh agama 11 orang dan khatib 26 orang.

Potensi Kecamatan Luak

TEMPAT PEMANDIAN BATANG TABIK

Kependudukan
Jumlah Penduduk di Kecamatan Luak berjumlah 23.628 jiwa dengan jumlah Laki-laki 11.597 jiwa, dan perempuan 12.031 jiwa, sex rasio 96,39 % dengan tingkat kepadatan penduduk 383 jiwa /Km2. Sumber mata pencaharian penduduk adalah petani dengan persentase 90 %, pedagang 7 % dan lainnya 3 % dari jumlah penduduk yang usianya produktif.
Pendidikan
Sarana pendidikan di Kecamatan Luak yang telah tersedia sejak tingkat pendidikan TK sampai SLTA. Sarana pendidikan TK berjumlah 9 (sembilan) unit. Sarana pendidikan SD tersebar disemua nagari berjumlah 23 (dua puluh tiga) unit. Untuk tingkat pendidikan SLTP Negeri/swasta 2 (dua) unit. Dan untuk tingkat pendidikan SLTA/SMK berjumlah 1 (satu) unit.
Kesehatan
Dibidang kesehatan, fasilitas dan sarana kesehatan di Kecamatan Luak masih memadai. Untuk melayani 4 Nagari terdapat 1 unit Puskesmas , 5 unit Puskesmas Pembantu (Pustu) , Polindes 9 unit dan Posyandu 36 unit. Adapun tenaga medis yang terdapat di kecamatan ini terdiri dari 2 orang dokter umum, 1 orang doktergigi, perawat umum 4 orang, perawat gigi 1 orang, dan 13 orang bidan.
Pertanian dan Perkebunan
Di bidang Pertanian dengan luas Sawah 1.592 Ha, luas panen 2.654 Ha/tahun dengan produksi 13.482,32 ton,lahan keringnya berpotensi untuk dikembangkan palawija seperti Jagung, Kacang Tanah, dan Ubi Jalar.Diperbukitan pada Kenagarian Sungai Kamuyang, Tanjung Haro Sikabu-Kabu dan Mungo merupakan lahan yang sangat cocok untuk pembudidayaan tanaman Kopi, Kulit Manis dan Pisang.
Peternakan dan Perikanan
Kecamatan Luak yang wilayahnya berada di Kaki Gunung Sago, penduduknya memperoleh mata pencarian dari ternak besar ( Sapi dan Kerbau ) dan ternak kecil (Kambing) serta ternak Unggas. Kecamatan ini merupakan sentra pengembangan ternak besar ( Sapi) dari Kabupaten Lima Puluh Kota. Kelompok Peternakan Sapi banyak terdapat di Kenagarian Mungo, Sungai Kamuyang dan Tanjung Haro Sikabu-kabu.
Sementara Kecamatan ini juga dikenal dengan pembibitan dan pemeliharaan ternak ikan yang berada di Kenagarian Mungo dan Andaleh, dengan jenis ikan Gurami, Nila dan ikan mas. Dari beberapa kolam milik masyarakat dijadikan untuk tempat rekreaki dengan membuat “Kolam Pancing “.
Sapi merupakan hewan ternak besar yang paling banyak terdapat di Kecamatan Luak. dengan populasi ternak Sapi adalah 16.393 ekor, Kerbau 1.644 ekor, Kambing 1.113 ekor .Selain itu, jenis unggas yang paling banyak terdapat adalah Ayam petelur 186.000 ekor, Ayam Pedaging 21.000 ekor, Ayam Buras 5.557 ekor dan Itik 8.100 ekor. Sementara luas Kolam adalah 124,10 ha dengan produksi 1.679,45 ton/tahun, Luas Budidaya Ikan di Sawah 1.145 Ha dengan produksi 46,82 ton/tahun , luas penangkapan ikan diperairan umum dengan luas 26 ha dengan produksi 2,49 ton/tahun.
Industri Rumah Tangga
Di Kenagarian Andaleh hampir disetiap rumah dengan skala usaha keluarga didapatkan kerajinan “rotan “ dan “ Keramik Gerabah” yang bahan bakunya didapatkan dari luar Kabupaten Limapuluh Kota yang dipasarkan ke Bukit Tinggi, Padang dan Pekan Baru. Kerajinan di Kenagarian Mungo dikenal dengan usaha “ songkok” dan “ Katidiang Rotan “ yang dipasarkan ke Payakumbuh.
Pariwisata
Tempat rekreasi terdapat di Kenagarian Sungai Kamuyang yaitu “Tempat Pemandian Batang Tabik“ yang telah dilengkapi fasilitas mushalla, tempat penyimpanan pakaian dan wc. Situs Kebudayaan hanya terdapat di Kenagarian Mungo yaitu “ batu tagak” yang terletak di Balai Gadang.
Pasar
Untuk memasarkan hasil pertanian dan membeli keperluan rumah tangga terdapat Pasar Kecamatan dikenal dengan Pakan Sabtu yang berada pada batas kenagarian Mungo dan Andaleh, dan pakan Sanggul di Nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu - http://www.limapuluhkotakab.go.id/kecamatan/8/luak.html

 

Eloknya Lembah Harau Keindahan Yang Mempesona Dikolong Langit

Oleh: Jamie Wilson
Banyak kumpulan tumpukan batu-batu granit menjulang tinggi hingga ratusan meter. Pemandangan yang elok di kawasan Lembah Harau, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat, akan membuat para wisatawan ter-kagum-kagum. Tumpukan batu-batu granit dengan dinding alami ini menampilkan kesan eksotik yang susah dijumpai di belahan bumi mana pun. Batu granit selain menghiasi, hamparan padi yang menguning dan sungai-sungai jernih mengalir dari air terjun di Lembah Harau memberikan suasana damai dan menenangkan.
Lembah Harau yang berjarak ratuan kilometer dari kota Padang dapat ditempuh lewat jalur darat dengan lama perjalanan sekitar 3,5 jam. Sedangkan dari Bukittinggi, kita dapat mencapai Lembah Harau dalam tempo satu jam. Lokasinya yang tidak begitu jauh dari pasar tradisional Sari Lamak dan Kantor Bupati, tidak akan menyulitkan pelancong dan sejumlah pemanjat tebing dari berbagai belahan dunia untuk menaklukan jelajah alam Lembah Harau. Bahkan buat menguji adrenalin, para pemanjat tampak begitu menikmati ketinggian dinding terjal Harau yang berkisar antara 80 meter hingga 300 meter.
Pada dinding ini tingkat kesulitan yang diketemukan cukup menjanjikan, mulai dari hanger (dinding dengan kemiringan 45 derajat hingga lebih) hingga lintasan atap (roof). Yang membuat kagum, dinding ini tidak hanya satu. akan tetapi terhampar di kawasan seluas puluhan hektare. Bahkan, cagar alam dan suaka margasatwa Lembah Harau seluas 270,5 hektare juga dapat dijadikan sebagai tempat bertualang. Sejumlah tempat peristirahatan yang terkesan natural akan melayani kepenatan Anda setelah puas melihat-lihat fenomena alam ini.
Terdapat tiga air terjun besar yang ditampung satu kolam alami. Kolam ini dapat dibilang cukup luas dan bisa menampung puluhan orang untuk bermain air. Sejumlah kolam renang, taman bermain, penginapan, hingga restoran akan memudahkan Anda saat berada jauh disini. Cukup membayar Rp10 ribu, Anda dapat masuk ke lokasi wisata alam ini dengan mengendarai mobil. Pastinya, harga tersebut di luar biaya parkir di lokasi areal wisata cagar alam ini.
Sejauh mata memandang, jajaran bukit barisan terhampar saling berkejaran  membentuk garis melingkar yang tidak terputus. Suasana ini semakin teduh dengan kesibukan bertani masyarakat setempat memberi kesan pedesaan. Bahkan, anda akan menjumpai sebuah prasasti peninggalan Belanda di lokasi wisata Lembah Harau, tepatnya di kaki air terjun yang akrab disebut masyarakat setempat sebagai Sarasah Bonta. Prasasti ini menyatakan bahwa Lembah Harau telah dikunjungi para penjajah Belanda sejak tahun 1926. Prasasti ini ditandatangani Asisten Residen Belanda untuk Limapuluh Kota F Rinner serta dua wakil dari Indonesia yakni Datuk Kuning Nan Hitam dan Datuk Kodoh Nan Hitam.
Di cagar alam yang berada di dataran tinggi Lembah Harau, beraneka spesies tumbuhan hujan tropis dan binatang asli Sumatera mampu menimbulkan rasa ingin tahu Anda. Sejumlah binatang asli Sumatera seperti monyet ekor panjang menjadi teman bagi wisatawan. Tak salah tentunya orang tua-tua berkata, kurang lengkap perjalanan Anda ke Sumatera Barat bila belum mendatangi Lembah Harau. Seperti cerita dongeng saja, semua keindahan Lembah Harau terpampang nyata di depan mata Anda. - http://www.limapuluhkotakab.go.id/artikel/1/eloknya-lembah-harau-keindahan-yang-mempesona-dikolong-langit.html
 

Menhir Maek

Oleh: Rudrik Syaputra
Kenagarian Maek (Mahat) terletak di Kecamatan Suliki Gunung Mas, 165 Km dari Padang, 45 Km di utara Payakumbuh. Disini terdapat ditus menhir terbesar di Indonesia. Di situs Koto Tinggi dan Bawah Parik, berbanjar di padang terbuka,satu arah ke tenggara (kearah Gunung Sago di Kecamatan Luhak), masing-masing terdapat lebih 300 batu tagak (menhir). Merupakan peninggalan budaya megalit Minangkabau sejak masa Neolithicum (Zaman Batu Baru), sekitar lebih 2.500 tahun berlalu.
Di Koto Tinggi, batu tagak itu terletak di padang terbuka di puncak sebuah bukit. Sekeliling perbukitan melingkung penuh, diatasnya cakrawala terbuka dengan langit penuh memayungi. Dari pasar Maek, pemandangan spektakuler padang menhir itu sudah dapat dilihat. Diterpa cahaya mentari sore, batu-batu purba itu terlihat berkilat-kilat.
Selain batu tagak, di desa Koto Gadang dan Ampang Gadang juga terdapat bekas balai-balai batu (batur pemujaan)
Talempong Batu Talang
Dapat ditemui di Kenagarian Talang Anau, kecamatan Gunung Mas, merupakan jenis batu dolmen yang juga peninggalan tradisi megalit. Terdiri dari sekelompok batu yang bila dipikul dapat mengeluarkan irama seperti nada talempong (alat kesenian tradisional Minangkabau).
:: Kecamatan Suliki | Sejarah dan Potensi ::
GEOGRAFIS
Kecamatan Suliki merupakan salah satu Kecamatan dari 13 Kecamatan di Kabupaten Limapuluh Kota yang terletak di antara 0 derjat 08” Lintang Utara dan 100 derjat 39’03” Lintang Selatan, dengan luas wilayah 136,94 Km2 yang berarti 4,08 % dari luas daratan Kabupaten Limapuluh Kota yang luasnya adalah 3.354,30 Km2 dengan 6 nagari dan 32 jorong.Rincian luas nagari dari terluas adalah :
  1. Nagari Suliki 52 Km2 dengan 5 jorong,yaitu:1)Limbanang Baruah,2)Ekor Parit, 3)Saut, 4)Penago, 5)Kampuang Dalam 
  2. Nagari Tanjung Bungo 29,46 Km2 dengan 4 jorong,yaitu: 1)Lancaran, 2)Kubu Tangah, 3)Karek Hilir 4)Batu Linjuang
  3. Nagari Sungai Rimbang 20 Km2 dengan 8 jorong,yaitu ; 1) Sialang, 2) Batu Bauk, 3)Damar Tinggi, 4) Tanah Tingkah, 5)Ateh Koto,6)Lombah, 7)Tanah Longiah, 8)Asam Panjang
  4. Nagari Kurai 20 Km2 dengan 3 jorong,yaitu :1) Kurai, 2) Botuang, 3) Mudiak Liki
  5. Nagari Limbanang 8,20 Km2 dengan 5 jorong,yaitu: 1)Limbanang Baruah,2)Ekor Parit, 3)Saut, 4)Penago, 5)Kampuang Dalam
  6. Nagari Andiang 7,20 Km2 dengan 4 jorong,yaitu :1)Siboka, 2)Padang Bunga, 3)Simpang Limo, 4)Kampung Baru
Batas-batas Kecamatan sebagai berikut: Sebelah Utara Kecamatan Bukik Barisan , Selatan Kecamatan Guguak dan Tilatang Kamang (Agam), Timur Kecamatan Guguak, dan Kecamatan Bukik Barisan .Dan sebelah Barat KecamatanTilatang Kamang (Agam). Ibu Kecamatannya adalah Suliki.
TOPOGRAGI
Topografi Kecamatan suliki berbukit dan bergelombang dengan tinggi tempat terendah di atas permukaan laut (dpl) berada Limbanang (548 m dpl) dan tertinggi adalah Bukit Pintu Angin ( Bukit perbatasan dengan Kecamatan Tilatang Kamang, Agam) Kenagarian Kurai (1664 m dpl) Kecamatan Suliki daratannya dialiri oleh Batang Sinamar dengan anak sungai/bandar airnya adalah sebagai berikut : B. Suliki, B. Panjang, B. Liki, B. Gosan, B. Sipinang,B.Limpali, B.Pandam ,B. Saut,B. Lurah Pak Kacang,B. Lubuk Tajam, B. Titian Batu, B. Tingi, B.Lereng, B. Kerak Hilir, B. Lancaran yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pengairan, perikanan , keramba dan pengambilan bahan galian C (sirtukil)
SEJARAH MENURUT TAMBO
Dalam Tambo disebutkan bahwa wilayah Kecamatan Suliki merupakan bagian dari wilayah Kampar Kanan. Disebutkan bahwa kampar kanan terbagi atas wilayah: 1. Di Hulu “Tungku nan Tigo “ (Limbanang,Koto Laweh,Koto Tangah,Koto Tinggi, Sungai Dadok, Sungai Naniang ) dan Mahek sebagai pematang Ranah Koto Kampar 2. Di Ulak ” Koto Nan Anam” ( Pangkalan, Koto Alam, Manggilang, Gunung Malintang, Tanjung Balit, dan Tanjung Pauh) 3. Di Tangah “Kapua nan IX” (Tanjung, Muara Takus, Pongkai,Koto Lamo, Koto Bangun, Sialang, Durian Tinggi, Kapua dan Lubuak Alai) Adapun Kampar Kanan berninik nan berempat, yaitu : Dt. Bandaro di Mahek, Dt. Majo Indo di Koto Laweh, Dt. Siri di Mungka ,Dt. Rajo Di Balai di Muaro Takus. Apabila terjadi perkara di V Koto Kampar Bangkinang pertama dilaksanakan rapat di Balai Tanah, apabila tidak selesai dilaksanakan di Pasir Merabau, dan apabila tidak kunjung juga selesai maka baru dibawa pada ninik nan berempat oleh Dt. Sibijayo dari Pangkalan Koto Baru, dan di bawa pula ke pada Dt, Tan Aduh di Koto Laweh, terus ke Dt. Siri di Mungka dan akhirnya sampai ke Balai Gadang Payakumbuh.
ZAMAN BELANDA Dizaman Belanda Kecamatan Suliki bernama Kecamatan Puar Datar dan Mahek , Kabupaten Limapuluh Kota dengan ibu Kecamatannya Suliki, yang terdiri dari Tiga Kelarasan yakni : Kelarasan Suliki, Koto Laweh, dan Mahek dengan kepala pemerintahan sebagai berikut : Kontroler bernama C.Schultz/AJH Hamerster,Jaksa bernama Rasad Dt. Gunuang Ameh, Ajung Jaksa adalah Mulana Sutan Mahyudin dan Penghulu bernama Candu Tuanku Mantari. Sedangkan nama Tuanku Larehnya adalah sebagai berikut : Lareh Suliki Tipak Dt. Nan Angek, Lareh Koto Laweh Arab Rajo Mangkuto dan Kelarasan Mahek Raman Dt. Hijau Setelah perubahan administrasi pemerintahan Sumatera Barat, Kelarasan dihapus pada bulan Nopember 1914, maka Suliki merupakan salah satu Onderafdeling dari Afdeling Limapuluh Kota
Afdeling Limapuluh Kota mempunyai 4 Onderafdeling yaitu : Onderafdeling Payakumbuh, Suliki, Pangkalan Koto Baru dan Bangkinang). Onderafdeling Suliki terbagi 3 distrik,yaitu distrik Suliki (Kelarasan Suliki dan Mahek),distrik Koto Laweh dan distrik Guguk ( Kelarasan Guguk dan Mungka) yang dipimpin oleh Demang Arab Rajo Mangkuto . Distrik Suliki dan Koto Laweh langsung dibawah demang Suliki sedangkan distrik Guguk dipimpin oleh asisten Demang Said Dt. Cumano di Dangung-dangung.
ZAMAN KEMERDEKAAN
Pada awal kemerdekaan Suliki dipimpin oleh demang Arisun yang diangkat oleh Residen Ke II Sumatera Barat Rusad Dt. Perpatiah Nan Baringek pada tanggal 23 Januari 1946 . Dengan adanya peristiwa Agresi Belanda II tahun1948-1949 maka Kecamatan Suliki di Bagi dua , yaitu Gunung Mas dengan Camat Meliternya H. Abdul Aziz dan Suliki Dt. Rajo Malano Setelah Agresi Belanda II ,berdasarkan instruksi Gubernur Meliter Sumatera Tengah No.10/GM/ST/49 tanggal 9 Nopember 1949 maka Gunung Mas dan Suliki diberinama Kecamatan Suliki Gunung Mas. Sehubungan luasnya wilayah Kecamatan Suliki Gunung Mas maka pada Tahun 1985 dibuat Perwakilan Kecamatan Suliki Gunung Mas di Koto Tinggi dan setahun kemudian dibuat pula Perwakilan Kecamatan Suliki Gunung Mas di Bukik Bulek.
Kemudian berdasarkan Perda No 14 Tahun 2001 tanggal 29 Oktober maka kembali dengan nama Kecamatan Suliki dengan camat-camatnya sejak tahun 1950 sebagai berikut : A. Dt. Rajo Malano, Aziz Rasyid, Johan Syafril, RB. Dt.Rajo Penghulu nan Kuniang, A. Dt. Rajo Malano, Hardi Zen .BA, Syafii Bakar.BA, Muzahar Abdulah.BA, Yohanes Dahlan.BA, Syafruudin Gindo.BA, Drs. Erman de Guci, Drs, Helmi Eriwadi,Drs. Herminas, Drs. Don Adonis, Drs.Ridwan, Drs. Syafwan Rahmat Bendang dan Iddarussalam.S Sos (Januari 2003- 2004), Yasri Karimi, BA (2004-2005), Arianto, S.Sos (2005-2008),Drs. Syaiful ( Jan 2009- Maret 2010), Muslim (maret 2010-Nopember 2010, Harman,Amd (Nop 2010-sekarang)
AGAMA
Untuk menunjang kehidupan beragama di Kecamatan Suliki terdapat fasilitas tempat ibadah berupa Masjid (21 buah), Mushala (29 buah),dan Langgar (17 buah) . Masyarakatnya 100 % memeluk agama Islam. Jumlah ulama 13 orang, mubalig 43 orang, penyuluh agama 10 orang dan khatib 21 orang
KEPENDUDUKAN
Jumlah Penduduk Kecamatan Suliki adalah 14.194 jiwa yang terdiri dari Laki-laki 6.893 jiwa dan Perempuan 7.301 jiwa dengan sex ratio 94,41 % dan tingkat kepedatan penduduk 104 jiwa/Km2. Dengan jumlah rumah tangga 4.040. Sumber mata pencaharian masyarakat Suliki mayoritas sebagai petani baik sebagai petani sawah/kebun/ternak dan ikan yang mencapai 87 %, pedagang dan jasa 10 %, dan lainya 3 %.
PENDIDIKAN
Sarana pendidikan di Kecamatan Suliki yang telah tersedia sejak tingkat pendidikan TK sampai SLTA. Sarana pendidikan TK berjumlah 12 (dua belas) unit. Sarana pendidikan SD tersebar disemua nagari berjumlah 22 (dua puluh dua) unit dan MIN 1 unit Untuk tingkat pendidikan SLTP Negeri/swasta 2 (dua) unit dan MTs 1 unit. Dan untuk tingkat pendidikan SLTA/SMK berjumlah 1 (satu) unit. MAN/MAS 1 unit. Dan SLB 1 unit.
KESEHATAN
Dibidang kesehatan, fasilitas dan sarana kesehatan di Kecamatan Suliki memadai. Untuk melayani 5 nagari terdapat 1 RSUD, 1 unit Puskesmas , 5 unit Puskesmas Pembantu (Pustu) , Polindes 8 unit dan Posyandu 37 unit. Adapun tenaga medis yang terdapat di kecamatan ini terdiri dari 10 orang dokter umum, 3 orang dokter gigi, perawat umum 38 orang, perawat gigi 5 orang, dan 11 orang bidan.

Potensi Kecamatan Suliki

TANAMAN PADI SAWAH, TERNAK SAPI, IKAN, BATUAN GRANIT DAN SITUS KEBUDAYAAN

PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
Dalam Bidang Pertanian Nagari Sungai Rimbang dengan sumber pengairan yang cukup berpotensi untuk penangkar benih padi sawah, dan memiliki Luas sawah 1.195 Ha dengan luas panen berkisar 3.226 Ha pertahun dengan produksi 15.613,84 ton pertahun tersebar di 5 nagari. Lahan keringnya sangat potensial dikembangkan dengan tanaman jagung dan ubi kayu, jeruk,mangis.cengkeh, coklat, kulit manis dan tembakau.
PETERNAKAN DAN PERIKANAN
Sapi merupakan hewan ternak besar yang paling banyak terdapat di Kecamatan Suliki dengan populasi ternak Sapi adalah 2.634 ekor, Kerbau 1.702 ekor, Kambing 1.025 ekor . Selain itu, jenis unggas yang paling banyak terdapat adalah Ayam petelur 107.500 ekor, Ayam Buras 35.320 ekor dan Itik 10.000 ekor. Sementara luas Kolam adalah 60,51 ha dengan produksi 818,37ton/tahun, Luas Budidaya Ikan di Sawah 598 Ha dengan produksi 83,24 ton/tahun , luas penangkapan ikan diperairan umum dengan luas 116 ha dengan produksi 11,08 ton/tahun.
PERTAMBANGAN
Bidang Pertambangan Kecamatan ini mempunyai bebrapa potensi seperti, batuan Granit ter terdapat di Sungai Rimbang. Granit adalah batuan beku yang bersifat asam dan mempunyai kristal-kristal yang kasar . Secara umun batuan ini dapat digunakan sebagai batu belah untuk bahan bangunan, tetapi apabila ronanya bagus dapat digu-nakan untuk ornamen lantai/dinding. Batuan Kuarsit terdapat di Sialang Nagari Sungai Rimbang yang dapat dimanfaatkan sebagai batu pecah,split dan untuk bahan kontruksi lainnya. Batuan Andesit terdapat di Penago Nagari Limbanang dan di Nagari Kurai. Bahan Galian Sabastone terdapat di Sialang Nagari Sungai Rimbang. Sabastone adalah batuan yang mengandung kuarsa dan feldsfar. Bahan ini biasa dipakai untuk pembuat-an keramik setelah dicampur dengan bahan lain seperti pasir kuarsa dan lempung.Batu Gamping terdapat di Sungai Kambing Nagari Sungai Rimbang dan dipingiran jalan Suliki- Koto Tinggi. Bahan Galian jenis Sirtukil terdapat di sepanjang Batang Sinamar dan anak sungai lainnya .Bahan Tambang Batu permata terdapat di Sungai Rimbang sehingga Nagari Sungai Rimbang dikenal juga dengan pengrajin Batu Aji.
KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA
Di Nagari Suliki terdapat sebuah artifak yaitu “Balai Batu” tempat bermusyawarah ninik moyang diwaktu pertamakali datang ke daerah Suliki. Di Nagari Limbanang mempunyai situs Kebudayaan ,yaitu “ Batu Sandaran Niniak” di Limbanang dan “ Batu menggigil” di Penago.Permainan anak nagari Kecamatan Suliki mempunyai Pencak Silat,Randai, Talempong,Saluang, Tari Gelombang dan Rebana
PASAR
Untuk memasarkan hasil petanian serta membeli keperluan harian di Kecamatan Suliki mempunyai Pasar di Suliki dan Pasar Serikat di Limbanang yang dibangun pada tahun 1978 dan kemudian dijadikan pasar Inpres. | http://www.limapuluhkotakab.go.id/kecamatan/3/suliki.html |
:: Web STT Payakumbuh ::
http://stt-payakumbuh.ac.id/
BLSM di Parakbatuang tidak Tepat Sasaran
Warga Kubugadang-Nankodok Minta Kantor Lurah
Padang Ekspres • Berita Sosial • Kamis, 18/07/2013 12:55 WIB • Fajar Rillah Vesky • 101 klik
Payakumbuh, Padek—Pe­nya­luran dana Bantuan Lang­sung  Sementara Masyarakat (BLSM) di Kelurahan Parakbatuang, Ke­camatan Payakumbuh Barat di­duga tidak tepat sasaran.  Ini terungkap saat Tim VII  Safari Ramadhan Pemko Payakumbuh dipimpin Ketua Pengadilan Ne­geri Yudissilen, berdialog dengan jamaah Masjid Jami’ Parak­batuang, Selasa (16/7) malam.

Dalam dialog tersebut, Yu­dis­silen yang didampingi Staf Ahli Wali Kota Marta Minanda, Ke­pala Bappeda Rida Ananda,  Kepala BKD Ruslayetti dan Ka­bag Organisasi Herlina, ditanyai jamaah Masjid Jami’ Parak­ba­tuang, soal penyaluran dana BLSM sebagai kompensasi dari kenaikan harga bahan bakar minyak.

Menurut jamaah Masjid Jami’, ada di antara warga Parak­betung yang tidak berhak me­nerima BLSM, tapi memperoleh bantuan senilai Rp150 ribu per­bu­lan yang dibagikan sekali dua bulan tersebut.  Sebaliknya, ada pula warga  yang berhak mem­pe­roleh BLSM, tapi tidak kebagian BLSM. Karenanya, tim didesak untuk menyelesaikan data BLSM yang tak tepat sasaran.

Terkait hal  ini, Tim VII Safari Ramadhan Pemko Payakumbuh, berjanji  segera menyampaikan aspirasi warga  Parakbatuang kepada penanggungjawab atau pengelola BLSM.  Sementara itu, Wali Kota Riza Falepi yang me­mimpin  Tim I Safari Ramadhan ke Masjid Al-Amanah, Kelurahan Kubugadang, Koto Nan Ompek pada Rabu malam, tidak mem­pe­roleh pertanyaan terkait BLSM.

Desak Perbaikan Jalan

Walau demikian, Riza Falepi yang turun bersama Wakil Ketua DPRD Haji Sudirman Rusma, Ketua Komisi C DPRD Zul Amri, Kadisdukcapil Iqbal Ber­ma­wi, Ka­­dis PU Muswendry, Camat Payakumbuh Barat Edvidel Arda, Kabag Humas Jonn Kennedi, Ketua LKAAM Inda Zahur Dt Rajo Simarajo, dan  Ketua KPU Hetta Menbayu, tetap dihujani masyarakat dengan berbagai harapan.

Ketua LPM Kubugadang AR Datuak Asa Dirajo, meminta  pemerintah kota bersama DPRD, agar dapat mengalokasikan ang­garan untuk mengaspal jalan lingkung di  Kubugadang, sebab kondisi jalan lingkung sudah memprihatinkan. Ia juga me­minta pemerintah  mem­ba­ngu­nan TPA/MDA, dan  membantu  korban puting-beliung di Kubugadang yang berasal dari keluarga miskin.

Khusus bantuan korban pu­ting-beliung ini  sangat diha­rap­kan, karena rumah korban  tidak bisa ditempati lagi. Untuk mem­bangunnya kembali, warga sudah bergotong-royong. “Saat ini, rumah sudah berdiri dengan nilai swadaya Rp17,5 juta. Hanya saja, kami LPM masih punya tung­gakan hutang Rp5,5 juta. Kami harap, pemerintah kota mem­bantu,” kata Datuak Asa Dirajo.

Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi mengapresiasi kekom­pakan warga dalam meringan korban puting-beliung. Riza juga menugaskan, Badan Kesbang dan Penanggulangan Bencana, agar segera mencarikan solusi untuk LPM Kubugadang. Sedangkan ter­kait persoalan jalan, Riza meminta Kadis PU  Muswendri  turun ke lapangan esok harinya atau Rabu (17/7) siang.

Wakil Ketua DPRD Sudirman mengatakan, Kubugadang sela­ma ini sudah menjadi perhatian serius oleh anggota DPRD Dapil Payakumbuh Barat. Di anta­ranya, jalan menuju puskesmas, drainase yang diminta tahun lalu, sudah direalisir. Karena itu, terhadap permintaan jalan  ling­kungan,  tepatnya  Jalan Seroja dan jalan menuju komplek peru­mahan guru STM di Kubugadang, akan tetap menjadi perhatian pemko ke depan,” kata Sudirman.

Minta Kantor Lurah

Selain meminta perbaikan jalan lingkung, warga Kelurahan Kubugadang meminta pula per­baikan kantor lurah mereka. Permintaan serupa disampaikan masyarakat Kelurahan Nan­ko­dok, Nagari Koto Nan Gadang, saat  tim safari ramadhan yang dipimpin Asisten II Setdako Yoherman, berkunjung ke Masjid Arsyad di kelurahan tersebut, Rabu malam.

Masyarakat Nankodok  me­nilai, kantor lurah mereka,  me­ru­pakan kantor lurah “terjelek” se- Payakumbuh. “Bangunan tersebut bisa dibilang sudah harus dipensiunkan atau di re­no­vasi ulang, rendah dari badan jalan dan juga sempit.” ujar Atrial, warga Nan Kodok yang juga pengurus Masjid Arsyad.

Camat Payakumbuh Barat Novriwandi tidak memungkiri kondisi tersebut. Menurut No­vri­wandi, pembangunan kantor lurah baru untuk kelurahan Nan­kodok,  telah diajukan dalam sidang di DPRD. Bahkan lokasi dan tanah yang akan dipakai, telah diberikan masyarakat se­luas  384 M2. Namun dalam pembangunannya, terkendala wacana penggabungan ke­lu­ra­han.

Di sisi lain, Wali Kota Riza Falepi berharap warga Nan­kodok  maupun Kubugadang bersabar dulu, soal pem­ban­gu­nan kantor lurah. Sampai ram­pungnya kegiatan perampingan kelurahan di Payakumbuh. “Kita mohon, masyarakat sabar dulu. Sampai pengabungan atau p­e­ram­pingan keluarahan  tuntas,” ujarnya.

Sementara, Ketua DPRD Pa­ya­kumbuh Wilman Singkuan yang memimpin kunjungan tim Safari Ramadhan (TSR) Ke­lompok III ke Masjid  Istiqamah Bulakan Balai Kandi pada Selasa (16/7) lalu, diminta warga  me­ningkatkan intensitas memerangi pekat, membangun drainase, dan menambah penerangan lampu jalan. (*)
[ Red/Administrator ] | http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=45831 |