:: Jembatan Layang Kelok Sembilan ::
http://www.youtube.com/watch?v=ha2cdle3IKk
Kamis, 18 Juli 2013
Senin, 17 Juni 2013
Wisata Batang Tabik
Jika sahabat
muda sekalian ingin memanjakan diri menyelam di air pegunungan yang asli
sejuknya, mari kunjungi satu lagi objek wisata di Kabupaten 50 Kota. Tepatnya
di Kecamatan Sungai Kamuyang. Namanya “Pemandian Batang Tabik”, konon
katanya itu dinisbahkan dari asal muasal adanya pemandian tersebut dari sebuah
mata air yang terbit di daerah tersebut, kemudian membesarlah hingga dijadikan
oleh masyarakat sebagai kolam renang asri dan alami. Air di kolam ini asli
berasal dari mata air pegunungan Sago, tanpa pakai karbit atau sejenisya untuk
menjernihkan. Akses menuju tempat ini sangat mudah. Jika sahabat berangkat
dari Pasar Ateh Payakumbuh, cukup dengan menaiki angkutan umum menuju daerah
Batang Tabik, sampaikan saja kepada sopirnya “Insya Allah” mereka akan
memberhentikan sahabat disana. Hingga saat ini ongkos berkisar Rp.2000,/orang. Sesampainya
disana, sahabat akan menemui sebuah gerbang bertuliskan “Pemandian Batang Tabik”
di sebelah kanan, lalu masuk dan membayar uang masuk sebesar Rp.5000, dan
nikmatilah fasilitas yang disedikan. Disediakan juga fasilitas sewa kamar
ganti, benen, serta celana pendek untuk yang tidak membawa persiapan. Monggo,
mampir...
http://nilmayola.blogspot.com/2013/04/wisata-batang-tabik.html
Selasa, 11 Juni 2013
8 WARGA JEPANG JAJAL KEMAMPUAN DI ARENA PARALAYANG TAEH BUKIK
LIMAPULUH KOTA -
Delapan warga asal negeri matahari terbit jajal kemampuan di arena paralayang Taeh Bukik, Kamis ( 18/4). Para pemain paragliding tersebut memanfaatkan waktu jeda selama 2 hari pada perlombaan paralayang internasional yang diselenggarakan di Maninjau sejak 3 hari yang lalu. Adalah Yokota, 66 tahun , warga kota Tokyo yang didaulat menjadi pemimpin rombongan mengatakan bahwa arena paralayang di Taeh Bukik ini sangat baik dari sisi safety dimana di daerah ini secara topografi relatif datar, tempat yang luas untuk bereksplorasi karena tidak banyak daerah hutan, kemudian kapanpun diperlukan untuk pendaratan darurat atlet bisa mendarat dimana saja karena cukup banyak lapangan terbuka dan pesawahan.
Hal ini dibenarkan, Dodo, seorang paralayang senior andalan Lima Puluh Kota, di lokasi ini tingkat keamanannya lebih baik dibanding tempat lain, karena bentangan alam yang luas dan relatif datar dan kawasan hutan yang relatif sedikit, pemain bisa terbang sampai ke Mungka terus ke Balubuih terus ke arah Lubuak Batingkok, sedangkan ditempat lain arena untuk bereksplorasi dibatasi oleh perairan dan hutan serta bentangan alam yang berbukik-bukit. Lokasi take off Paralayang di TaehBukik ini berada di Ketinggian 1100 m dari permukaan laut (dpl) dan tempat landing 650 m dpl, sehingga ketinggian antara tepat landing dengan take off hanya 450 m dan tidak setinggi yang di Puncak Lawang �“ Maninjau.
Lebih lanjut Dodo yang juga mantan atlet motocross tersebut, menambahkan, ketinggian tersebut bukanlah jaminan utama, karena kalau anginnya bagus maka ketinggian dari 1110 m tadi dapat ditingkatkan sampai 2000 m. Dari pengamatan langsung di lokasi , terlihat mereka semua sangat menikmati permainan di arena Paralayang Taeh Bukik , di kawasan Gunung Bungsu ini. Mereka berputar-putar dan bekeliling saja mengekplorasi keindahan lokasi melalui udara, sekitar 40 menit di udara, baru mereka turun. Sesaat, setelah landing seorang anggota rombongan Koichi Simamura (73) tahun mengacungkan jempol. "Tahun depan kami berencana akan datang lagi dengan peserta yang lebih banyak," ungkapnya penuh rasa puas. | http://www.limapuluhkotakab.go.id/berita/464/8-warga-jepang-jajal-kemampuan-di-arena-paralayang-taeh-bukik.html
Delapan warga asal negeri matahari terbit jajal kemampuan di arena paralayang Taeh Bukik, Kamis ( 18/4). Para pemain paragliding tersebut memanfaatkan waktu jeda selama 2 hari pada perlombaan paralayang internasional yang diselenggarakan di Maninjau sejak 3 hari yang lalu. Adalah Yokota, 66 tahun , warga kota Tokyo yang didaulat menjadi pemimpin rombongan mengatakan bahwa arena paralayang di Taeh Bukik ini sangat baik dari sisi safety dimana di daerah ini secara topografi relatif datar, tempat yang luas untuk bereksplorasi karena tidak banyak daerah hutan, kemudian kapanpun diperlukan untuk pendaratan darurat atlet bisa mendarat dimana saja karena cukup banyak lapangan terbuka dan pesawahan.
Hal ini dibenarkan, Dodo, seorang paralayang senior andalan Lima Puluh Kota, di lokasi ini tingkat keamanannya lebih baik dibanding tempat lain, karena bentangan alam yang luas dan relatif datar dan kawasan hutan yang relatif sedikit, pemain bisa terbang sampai ke Mungka terus ke Balubuih terus ke arah Lubuak Batingkok, sedangkan ditempat lain arena untuk bereksplorasi dibatasi oleh perairan dan hutan serta bentangan alam yang berbukik-bukit. Lokasi take off Paralayang di TaehBukik ini berada di Ketinggian 1100 m dari permukaan laut (dpl) dan tempat landing 650 m dpl, sehingga ketinggian antara tepat landing dengan take off hanya 450 m dan tidak setinggi yang di Puncak Lawang �“ Maninjau.
Lebih lanjut Dodo yang juga mantan atlet motocross tersebut, menambahkan, ketinggian tersebut bukanlah jaminan utama, karena kalau anginnya bagus maka ketinggian dari 1110 m tadi dapat ditingkatkan sampai 2000 m. Dari pengamatan langsung di lokasi , terlihat mereka semua sangat menikmati permainan di arena Paralayang Taeh Bukik , di kawasan Gunung Bungsu ini. Mereka berputar-putar dan bekeliling saja mengekplorasi keindahan lokasi melalui udara, sekitar 40 menit di udara, baru mereka turun. Sesaat, setelah landing seorang anggota rombongan Koichi Simamura (73) tahun mengacungkan jempol. "Tahun depan kami berencana akan datang lagi dengan peserta yang lebih banyak," ungkapnya penuh rasa puas. | http://www.limapuluhkotakab.go.id/berita/464/8-warga-jepang-jajal-kemampuan-di-arena-paralayang-taeh-bukik.html
Sejarah Lima Puluh Kota
[ TAMBO ]
Lima Puluh Kota kita kenal dengan masyarakatnya “yang ramah tamah dan setia, aianyo janiah, ikannyo jinak, sayaknyo landai, dalam nan indak tajangkau, dangka nan indak tasubarangi”. Nama Limo Puluh Kota diambil dari peristiwa kedatangan 50 (Limapuluh ) rombongan yang datang dari Pariangan Padang Panjang untuk mencari pemukiman baru di kaki Gunung Sago . Mereka berangkat dari Pariangan Padang Panjang, Sungai Jambu, Menuju Tabek Patah, Tanjuang Alam, Tungka, Bukik Junjuang Siriah, Bawah Burai, Aia Taganang, Padang Kubuang, Padang si Janti-janti, Lurah Pimpiang, Lurah Luak Kuntu, Lurah Basuduik, Lurah Sumua Sati, Lurah Jalan Binti, Ngalau dan sebagainya. Dalam perjalan rombongan menemui sebuah padang ribu-ribu yang luas dan memutuskan bermalam di situ karena hari telah senja. Perkiraan tempat itu sekitar pasar ternak sekarang perbatasan Piladang dan Situjuah ) .
Pagi esok harinya, di waktu rombongan akan berpencar mencarai tempat yang baik untuk daerah pemukiman dan pertanian, diketahui telah berkurang lima rombongan. Setelah Tanya-bertanya kemana perginya yang kurang itu, semua yang menjawab mengatakan : antahlah! Tempat itu sampai sekarang bernama Padang Siantah. Beberapa waktu kemudian baru diketahui, kelima rombongan yang antahlah! Itu menuju daerah Bangkinang ,Kuok, Air Tiris, Salo dan Rumbio. Selanjutnya rombongan yang tinggal 45 kelompok ini melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampailah pada suatu tempat dekat Batang Agam yaitu Titian Aka dan Kumbuah Nan Bapayau, dan mereka berhenti dan disambut oleh niniak nan batigo yaitu : Rajo Panawa, Barabin Nasi, dan Jhino Katik rombongan yang telah lebih dahulu sampai di Payakumbuh.
Niniak nan batigo menerima baik kedatangan mereka. Dan dengan senang hati mempersilahkan memilih tempat yang layak untuk diolah jadi pemukiman, peladangan dan sawah. Untuk sama-sama teguh memegang buat sebelumnya diadakan musyawarah yang diadakan di atas sebuah tanjung dekat air tabik, mereka berhimpun (berkumpul) di tanjung tersebut sehingga dinamai Tanjung tersebut dengan Tanjung Himpun ( masyarakat menyebutnya Tanjung Pun) Dan kemudian mereka membagi rombongan dan melanjutkan menuju arah yang mereka suka masing-masing tempat mereka berpisah dinamai dengan Labuah Basilang.
ROMBONGAN YANG DATANG DARI PARINGAN PADANG PANJANG
H.C.Israr yang dikutip oleh Dr. Alis Marajo Dt. Sori Marajo dalam makalahnya yang dipresentasikannya pada acara tutua badonga adalah :
Rombongan yang menuju arah Batu Hampar adalah :
1). Datuak Pangulu Basa ke Tambun Ijuak,
2). Datuak Rajo Malano Ke Batu Hampa,
3). Datuak Munsaid ke Koto Tangah dan
4). Datuak Permato Dirajo ke Durian Gadang.
Rombongan yang menuju kearah Tiaka adalah :
1). Datuak Rajo Basa
2). Datuak Rajo Indo Anso
3). Datuak Sinaro nan Bagonjong
4). Datuak Tumangguang nan Pariawan ,
5). Datuak Gindo Malano nan Panjang,
6). Datuak Malagiri nan Hitam.
Rombongan yang menuju ke Air Tabit adalah :
1). Datuak Marajo Indo nan Mamangun,
2). Datuak Marajo Indo nan Rambayan,
3). Datuak Gindo Malano
4). Datuak Rajo Makhudum,
5). Datuak Damuanso dan
6). Datuak Bandaro Sati.
Kemudian rombongan yang menuju ke Anak Koto Air Tabit adalah :
1). Datuak Paduko Alam ke Limbukan,
2). Datuak Paduko Sinaro ke Aur Kuniang,
3). Datuak Rajo Malano ke Sei Kamuyang,
4). Datuak Rajo Malikan Nan Panjang ke Mungo, dan
5). Datuak Pangulu Basa ke Andaleh.
Sementara itu rombongan menuju arah Halaban adalah :
1). Datuak Rajo Mudo ke Halaban,
2). Datuak Paduko Alam ke Ampalu,
3). Datuak Paduko Marajo ke Sitanang,
4). Datuak Munsoik ke Tebing Tinggi
Rombongan menuju Situjuah adalah :
1). Datuak Marajo Simagayua nan Mangiang ke Situjuah Banda Dalam ,
2). Datuak Rajo Malano ke Situjuah Ladang Laweh
3). Datuak Munsoid ke Situjuah Gadang, dan
4). Datuak Marajo Kayo ke Situjuah Batua.
Sementara itu rombongan yang menuju ke Talago Gantiang adalah :
1). Datuak Rajo Mangkuto nan Lujua ke Balai Talang,
2). Datuak Bandaro nan Hitam ke Talago, dan
3). Datuak Patiah Baringek ke Kubang
Sedangkan Rombongan yang menuju Gunuang Bungsu adalah :
1). Datuak Bandaro nan Balapiah ke Simalanggang,
2). Datuak Mangun Dirajo ke Sungai Beringin,
3). Datuak Rajo Baguno ke Piobang,
4). Datuak Bagindo Soik ke Taeh,
5). Datuak Sabatang ke Gurun, dan
6). Datuak Sinaro ke Lubuak Batingkok
Kemudian rombongan menuju Sarilamak adalah :
1). Datuak Sinaro nan Panjang ke Sarilamak,
2). Datuak Sinaro nan Garang ke Tarantang,
3). Datuak Bandaro/Sinaro ke Harau dan
4). Datuak Tan Gadang ke Solok Padang Laweh.
Dan rombongan arah Taram dan Batu Balang adalah :
1). Datuak Tumangguang ke Taram
2). Datuak Panghulu Basa ke Bukik Limbuku,
3). Datuak Marajo Basa ke Batu Balang,
Adapun lima ( 5 ) rombongan yang hilang tersebut adalah :
1). Datuak Permato Soid di Kuok,
2). Datuak Bandaro Sati di Bangkinang,
3). Datuak Tan Gadang di Salo,
4). Datuak Baramban di Aie Tiris, dan
5). Datuak Marajo Basa di Rumbio
WILAYAH LIMO PULUAH KOTO DALAM TAMBO
Tokoh Paderi yang terkenal adalah Haji Piobang, Tuanku Nan Biru dari Guguak, Tuanku Nan Garang dari Lubuak Batingkok, dan Tuanku Halaban yang kemudian diangkat Belanda menjadi Regen Halaban.
BUPATI LIMA PULUH KOTA
Dalam sejarah pemerintahan Limapuluh Kota pertama kali dipimpin oleh Syahfiri Sutan Pangeran sejak 8 Oktober 1945 dan dalam pelaksanaan hariannya dijabat sementara oleh Dr.Adnan ,WD, pada 23 Januari 1946 dijabat oleh Bagindo Moerad sampai tahun 1947,kemudian digantikan lagi oleh Alifuddin sampai akhir tahun 1948, dan dilanjutkan oleh Bupati Militer Arisun St. Alamsyah dan setelah beliau gugur di Situjuh pada tanggal 15 Januari 1949 digantikan oleh Bupati Militer Saalah Sutan Mangkuto yang menjabat tahun 1949, kemudian dilanjutkan oleh Bupati Sultani Sutan Malako selama setahun (1950). Dalam masa stabilitas politik nasional yang belum stabil maka Limapuluh Kota dipimpin oleh H. Darwis Dt. Tumangguang yang memimpin Kabupaten Limapuluh Kota selama 5 tahun ( 1950- 1956). Syahboedin Latif Dt. Si Bungsu melanjutkan kepemimpinan Darwis dari pertengahan tahun 1956-1957.
Dan sejak Juni 2000- Juni 2005 dipimpin oleh Bupati dr. Alismarajo Dt. Sori
Marajo dan Wakil Bupati Drs. H.Amri Darwis .SA dan untuk mengisi kekosongan
jabatan Bupati sampai dilantiknya Bupati terpilih hasil Pilkada maka dijabat
oleh Plh. Drs. H Basril Thaher kemudian pada bulan Agustus 2005 sampai 2010 Kabupaten Limapuluh Kota dipimpin oleh Bupati Drs. H.Amri Darwis.SA dan Wakil Bupati
Ir. Irfendi Arbi MP. Untuk mengisi kekosongan jabatan Bupati sampai dilantiknya Bupati terpilih hasil Pilkada maka dijabat oleh Penjabat Drs.Syafrial kemudian pada bulan November 2010 sampai sekarang dipimpin oleh Bupati dr.Alis Marajo dan Wakil Bupati Drs.Asyirwan Yunus, M.Si. | http://www.limapuluhkotakab.go.id/profil/3/sejarah.html
Lima Puluh Kota kita kenal dengan masyarakatnya “yang ramah tamah dan setia, aianyo janiah, ikannyo jinak, sayaknyo landai, dalam nan indak tajangkau, dangka nan indak tasubarangi”. Nama Limo Puluh Kota diambil dari peristiwa kedatangan 50 (Limapuluh ) rombongan yang datang dari Pariangan Padang Panjang untuk mencari pemukiman baru di kaki Gunung Sago . Mereka berangkat dari Pariangan Padang Panjang, Sungai Jambu, Menuju Tabek Patah, Tanjuang Alam, Tungka, Bukik Junjuang Siriah, Bawah Burai, Aia Taganang, Padang Kubuang, Padang si Janti-janti, Lurah Pimpiang, Lurah Luak Kuntu, Lurah Basuduik, Lurah Sumua Sati, Lurah Jalan Binti, Ngalau dan sebagainya. Dalam perjalan rombongan menemui sebuah padang ribu-ribu yang luas dan memutuskan bermalam di situ karena hari telah senja. Perkiraan tempat itu sekitar pasar ternak sekarang perbatasan Piladang dan Situjuah ) .
Pagi esok harinya, di waktu rombongan akan berpencar mencarai tempat yang baik untuk daerah pemukiman dan pertanian, diketahui telah berkurang lima rombongan. Setelah Tanya-bertanya kemana perginya yang kurang itu, semua yang menjawab mengatakan : antahlah! Tempat itu sampai sekarang bernama Padang Siantah. Beberapa waktu kemudian baru diketahui, kelima rombongan yang antahlah! Itu menuju daerah Bangkinang ,Kuok, Air Tiris, Salo dan Rumbio. Selanjutnya rombongan yang tinggal 45 kelompok ini melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampailah pada suatu tempat dekat Batang Agam yaitu Titian Aka dan Kumbuah Nan Bapayau, dan mereka berhenti dan disambut oleh niniak nan batigo yaitu : Rajo Panawa, Barabin Nasi, dan Jhino Katik rombongan yang telah lebih dahulu sampai di Payakumbuh.
Niniak nan batigo menerima baik kedatangan mereka. Dan dengan senang hati mempersilahkan memilih tempat yang layak untuk diolah jadi pemukiman, peladangan dan sawah. Untuk sama-sama teguh memegang buat sebelumnya diadakan musyawarah yang diadakan di atas sebuah tanjung dekat air tabik, mereka berhimpun (berkumpul) di tanjung tersebut sehingga dinamai Tanjung tersebut dengan Tanjung Himpun ( masyarakat menyebutnya Tanjung Pun) Dan kemudian mereka membagi rombongan dan melanjutkan menuju arah yang mereka suka masing-masing tempat mereka berpisah dinamai dengan Labuah Basilang.
ROMBONGAN YANG DATANG DARI PARINGAN PADANG PANJANG
H.C.Israr yang dikutip oleh Dr. Alis Marajo Dt. Sori Marajo dalam makalahnya yang dipresentasikannya pada acara tutua badonga adalah :
Rombongan yang menuju arah Batu Hampar adalah :
1). Datuak Pangulu Basa ke Tambun Ijuak,
2). Datuak Rajo Malano Ke Batu Hampa,
3). Datuak Munsaid ke Koto Tangah dan
4). Datuak Permato Dirajo ke Durian Gadang.
Rombongan yang menuju kearah Tiaka adalah :
1). Datuak Rajo Basa
2). Datuak Rajo Indo Anso
3). Datuak Sinaro nan Bagonjong
4). Datuak Tumangguang nan Pariawan ,
5). Datuak Gindo Malano nan Panjang,
6). Datuak Malagiri nan Hitam.
Rombongan yang menuju ke Air Tabit adalah :
1). Datuak Marajo Indo nan Mamangun,
2). Datuak Marajo Indo nan Rambayan,
3). Datuak Gindo Malano
4). Datuak Rajo Makhudum,
5). Datuak Damuanso dan
6). Datuak Bandaro Sati.
Kemudian rombongan yang menuju ke Anak Koto Air Tabit adalah :
1). Datuak Paduko Alam ke Limbukan,
2). Datuak Paduko Sinaro ke Aur Kuniang,
3). Datuak Rajo Malano ke Sei Kamuyang,
4). Datuak Rajo Malikan Nan Panjang ke Mungo, dan
5). Datuak Pangulu Basa ke Andaleh.
Sementara itu rombongan menuju arah Halaban adalah :
1). Datuak Rajo Mudo ke Halaban,
2). Datuak Paduko Alam ke Ampalu,
3). Datuak Paduko Marajo ke Sitanang,
4). Datuak Munsoik ke Tebing Tinggi
Rombongan menuju Situjuah adalah :
1). Datuak Marajo Simagayua nan Mangiang ke Situjuah Banda Dalam ,
2). Datuak Rajo Malano ke Situjuah Ladang Laweh
3). Datuak Munsoid ke Situjuah Gadang, dan
4). Datuak Marajo Kayo ke Situjuah Batua.
Sementara itu rombongan yang menuju ke Talago Gantiang adalah :
1). Datuak Rajo Mangkuto nan Lujua ke Balai Talang,
2). Datuak Bandaro nan Hitam ke Talago, dan
3). Datuak Patiah Baringek ke Kubang
Sedangkan Rombongan yang menuju Gunuang Bungsu adalah :
1). Datuak Bandaro nan Balapiah ke Simalanggang,
2). Datuak Mangun Dirajo ke Sungai Beringin,
3). Datuak Rajo Baguno ke Piobang,
4). Datuak Bagindo Soik ke Taeh,
5). Datuak Sabatang ke Gurun, dan
6). Datuak Sinaro ke Lubuak Batingkok
Kemudian rombongan menuju Sarilamak adalah :
1). Datuak Sinaro nan Panjang ke Sarilamak,
2). Datuak Sinaro nan Garang ke Tarantang,
3). Datuak Bandaro/Sinaro ke Harau dan
4). Datuak Tan Gadang ke Solok Padang Laweh.
Dan rombongan arah Taram dan Batu Balang adalah :
1). Datuak Tumangguang ke Taram
2). Datuak Panghulu Basa ke Bukik Limbuku,
3). Datuak Marajo Basa ke Batu Balang,
Adapun lima ( 5 ) rombongan yang hilang tersebut adalah :
1). Datuak Permato Soid di Kuok,
2). Datuak Bandaro Sati di Bangkinang,
3). Datuak Tan Gadang di Salo,
4). Datuak Baramban di Aie Tiris, dan
5). Datuak Marajo Basa di Rumbio
Wilayah Luak Limo Puluah Koto dalam dua (2) buah Tambo yang berbeda
memberikan luas wilayah yang berbeda. Berdasarkan
Tambo Alam Minangkabau yang ditulis H. Datoek Toeah (1934) Luhak Limapuluh Kota
terbagi atas 3 daerah yaitu :
1. Luhak yang meliputi
pemerintahan Lareh nan bunta dengan
bagiannya ialah : Simalangang Hilir sampai ke Taram dalam daerah Luhak ini
termasuk : Suayan, Sungai Balantiak,Sariak Laweh,Tambun Ijuak, Koto Tangah,
Batu Hampa, Durian Gadang, Babai, Koto Tinggi, Air Tabik, Sei Kamuyang, Situjuah,
Limbukan , Padang Kerambia,Sicincin , Aur Kuning, Tiaka, Payobasuang, Mungo,
Andaleh, Taram, Bukik Limbuku, Batu Balang dan Koto Nan Gadang.
2. Ranah yang meliputi
pemerintahan Lareh Batang Sinamar sehinga Simalanggang mudik dan kehilirnya
Ranah Tebing Tinggi dan kemudiknya Mungkar.Wilayah Ranah ialah : Gantiang, Koto
Laweh, Suliki, Sungai Rimbang, Tiaka, Balai Mansiro,Talago, Sungai Talang,Balai
Kubang, Taeh , Simalanggang, Piobang Sungai
Beringin, Gurun Lubuak Batingkok, Tarantang ,Sarilamak, Harau,
Solok Bio-Bio (Padang Laweh).
3. Lareh adalah
Lareh Nan Panjang sehingga Taram hilir ke Mudiknya Pauh Tinggi dengan wilayahnya ialah: Gadut Tebing Tinggi, Sitanang
Muaro Lakin, Halaban , Ampalu, Surau dan Labuah Gunuang.
Sementara
itu menurut Tambo yang ditulis oleh Bahar Dt.
Nagari Basa (1966) bahwa Luhak
Limapuluah Koto terdiri dari 5 (lima) ulayat Hulu,Luhak, Lareh, Ranah dan Sandi.
Yang berdasarkan musyawarah di Balai
Tinggi Sitanang Muaro Lakin, dengan batas barih balabeh Luhak Limopuluah
terletak dari Sialang Balantak Basi sampai ke Si Saut Sungai Rimbang, hilirnya
Sipisak Pisau Hanyut. Dari Durian di Takuak Rajo sampai ke Silukah Pinang
Tungga. Dari Pinang Mancuang Hilir, sampai ke Gunung Sailan Mudik.
Di Balai
Tinggi Sitanang Muaro Lakin juga menetapkan Limapuluah Koto dibagi menjadi lima
ulayat yang dipimpinan dengan sebutan rajo.
Ulayat Limo Rajo adalah :
1. Datuak Marajo Simagayur dari Pitapang Situjuah
Banda Dalam adalah Rajo di Hulu
2. Datuak Rajo Indo nan Mamangun dari Aia
Tabik adalah Rajo di Luhak
3. Datuak Paduko Marajo dari Sitanang Muaro
Lakin adalah Rajo di Lareh
4. Datuak Bandaro Hitam dari Payobada Talago Gantiang adalah Rajo di Ranah
5. Datuak Permato Alam Nan Putiah dari Si
Pisang Koto Nan Gadang adalah Rajo di Sandi
Keputusan mufakat di Balai Koto Tinggi juga melahirkan
Kunci Pasak Luhak Limopuluah. Masing-masing kunci pasak mengandung fungsi dan
peranan yang sifatnya menjaga-jaga.
1. Pasak Ampang Baramban Basa
bernama Dindiang Tambago di Sitanang Muaro Lakin.
Di Aur Tanah Bamungguak. Berfungsi untuk menghambat kalau ada yang hanyut dari
hulu , kalau ada “rando” berjalan sendiri supaya dipintasi. Dagang yang datang
dari hilir. Orang salah rupa yang datang bertongkat lembing, menyandang kain
tarok, bercawat tidak berbaju, berdeta usang dan berkain senteng. Dihambat agar
tidak masuk ke Luhak Limapuluah. Penjabat sepanjang adat di Baramban Basa
Sitanang Muaro Lakin dengan Pangulu kebesarannya adalah Dt.Rajo Dubalang ,
dengan dubalangnya adalah Dt. Cumano dengan
pegawainya adalah Si Kareh Hati dengan imbauan Si Malancang Kuniang.
2. Pasak Kunci Loyang di Tarantang
Sarilamak. Berfungsi untuk menghambat upeh dan racun, penahan
pukau dan sihir, yang datang dari kampar kiri dan kampar
kanan sehingga tidak dapat masuk ke Luhak Limopuluah yang akan membuat
malapetaka. Pangulu kebesarannya adalah Dt. Sinaro Garang, dengan dubalangnya
Malendo Gadang Tulang, dengan pegawainya Si Manguncang Alam.
3. Pasak Hulu bernama Kungkuang Parangkok
di Koto Laweh, berguna menghambat musuh dari luar yang
datang melalui Rao Simalungun orang yang liat jangat, orang tebal kulit, orang
yang mahir ilmu kebal dan tahan besi jangan sampai masuk dan mengacau di Luhak Limopuluh .Yang menjalankan
peranan dalam Pasak Kungkuang adalah Pangulu bergelar Dt. Marajo Indo, dengan
dubalangnya Tunadue Sangik Iduang, dengan pegawainya Si Magiang Sati.
Berkedudukan juga Dt.Rajo Endah di Pandam Gadang dan Dt. Langka Basa di Baruah
Gunuang yang menguasai Koto Nan Sapuluah dari Siamang Bunyi Hilir hingga Sungai
Siriah Mudiak yang berfungsi menyelesaikan silang sengketa yang datang dari
luar yang mau masuk ke Luhak Limopuluah.
4. Pasak Kunci Basi bernama Ampang Panginang di Sariak Laweh
berfungsi untuk menghambat orang yang
datang dari mudik yang ingin masuk ke Luhak Limopuluh yang hendak mengacau .Pangulunya
adalah Dt. Rajo Mangkuto, dubalang adalah Si Sanggak Labiah, pegawainya Dt.
Panjang Aka.
5. Pasak Jalujua bernama Pamuncak
Adat di Situjuah. Fungsinya adalah apabila ada aturan adat
dan limbago ataupun titah dari Basa Ampek Balai dimana kalau baik hutang
memakai, kalau enak hutang memakan, jika elok hutang membenarkan, jika buruk
hutang membuang. Andai datang sudi siasat dari daulat yang dipertuan, agar
tegak tidak tersundak, kalau melenggang tidak terpampeh, agar tidak rusak Luhak
Limopuluah. Pangulu pasak jalujua adalah Dt.Munsahik dengan dubalangnya Dt.
Sipado Nyalo, pegawainya Sati Dirajo.
PEMBAGIAN WILAYAH ULAYAT RAJO
1. Wilayah Hulu ialah yang berjenjang ke
Ladang Laweh,berpintu ke Sungai Patai, selingkar Gunung Sago, mudiknya Labuah
Gunuang dan hilirnya sampai ke Balai Koto Tinggi. Yang memegang tampuk pimpinan
ulayat Hulu adalah Dt. Marajo Simagayur
yang berkedudukan di Situjuah Banda Dalam yang disebut juga Pamuncak Adat.
2.Wilayah Luhak
adalah sejak dari Munggo mudik sampai ke Limbukan hilir. Mencakup daerah di
dalamnya Koto Kaciak, Andaleh, Tanjuang Kubu, Sungai Kamuyang, Aur Kuning,
Tanjung Patai, Gadih Angik, Padang Karambie, Limau Kapeh, dan Air Tabik Limo
suku. Yang memegang barih balabeh Luhak adalah
disebut “ urang balimo badunsanak “ yaitu
:
a. Datuk Rajo Malingkan berkedudukan di Mungo
dengan Koto Kaciak baranak ke Subaliak Aia
b. Datuak Pangulu Basa berkedudukan di
Andaleh dengan Tanjuang Kubu, beranak ke banda tunggang.
c. Datuak Rajo Malano berkedudukan di Sei
Kamuyang nan tungga sampai sawah tangah mudiak sampai kaki gunung hilir yang
bernama talua tasapik kabatu.
d. Datuk Paduko Sinaro berkedudukan di Aua
Kuniang dengan Tanjuang Patai, baranak ke Gadih Angik.
e. Datuk Paduko Alam berkedudukan di Limbukan
Padang Karabia baranak ke Limau Kapeh
Rajo di Luhak adalah Dt. Marajo Indo nan
Mamangun berkedudukan di Air Tabik.
3. Wilayah Lareh adalah
antara Bukik Cubadak Mudik sampai ke Padang Balimbiang Hilir . Pemegang tampuk adat ulayat Lareh
adalah Dt. Paduko Marajo.
4. Wilayah Ranah adalah
dari Sialang Balantak Basi sampai ke Saut Sungai Rimbang sampai ke Jopang
Manganti, terus ke Mungka Koto Tuo,hilirnya ke Tambun Sarilamak, sampai ke
Paraku Anjiang Mudiak, selingkar Batang Sinamar dan selingkung Batang Lampasi,
dan sampai juga ke Mahek Muara Takus dan Sialang Durian Tinggi. Yang menjadi
pemimpin ulayat Ranah adalah Dt.
Dahandaro yang di panggilkan Dt. Bandaro Hitam berkedudukan di Talago Gantiang.
5. Wilayah Sandi
meliputi sekitar daerah Kumbuah nan Payau, Titian Aka. Terletak dari Nasi Rodam
ke tengah, Padang Samuik ke tepi. Dari Bukit Si Kabau hilir hingga Muaro Mudik.
Pemegang tangkai adat atau Rajo di Sandi adalah Dt. Permato Alam Nan Putiah di
Koto Nan Gadang.
SEJARAH ZAMAN PADERI
Pada zaman paderi Luhak Lima Puluh Kota, terdiri
dari 50 Nagari adat , nagari yang mempunyai adat yang sama di himpun menjadi
satu kelarasan sehingga Limapuluh Kota terbagi kedalam 13 kelarasan adat
pimpinan kelarasan disebut tuanku lareh yang dipilih dari salah satu wali
nagari dalam satu kelarasan , yaitu :
1. Kelarasan Koto Nan Ampek (Koto
Nan Ampek )
2. Kelarasan Koto Nan Gadang (Koto
Nan Gadang )
3. Kelarasan Payo Basuang ( Payo
Basuang, Tiakar, Andaleh, dan Mungo )
4. Kelarasan Halaban
(Halaban,Ampalu, Sitanang, Tabiang Tinggi, Batu Payuang, dan Balai Panjang )
5. Kelarasan Limbukan ( Limbukan,
Aie Tabik,Tanjung Haro Sikabu,dan Sungai Kamuyang )
6. Kelarasan Situjuah ( Situjuah
Batur, Situjuah Gadang, Situjuah Banda Dalam, dan Situjuang Ladang Laweh )
7. Kelarasan Batu Hampa ( Batu
Hampa, Koto Tangah, Sariak Laweh, Suayan , Sungai Balantiak dan Durian Gadang
)
8. Kelarasan Guguak ( Guguak, VII Koto Talago, Kubang, dan Sungai
Talang)
9. Kelarasan Mungkar (Mungkar,
Talang Maur, Sungai Antuan,dan Jopang Manganti )
10. Kelarasan Lubuak Batingkok (
Lubuak Batingkok, Gurun, dan Koto tuo )
11. Kelarasan Sungai Baringin (
Sungai Baringin, Piobang, Taeh Baruah,Taeh Bukik, Koto Baru, dan Simalanggang)
12. Kelarasan Sarilamak ( Sarilamak, Tarantang, Harau,dan Solok
Bio-Bio )
13. Kelarasan Taram ( Taram, Bukik Limbuku,
dan Batu Balang ).
Tokoh Paderi yang terkenal adalah Haji Piobang, Tuanku Nan Biru dari Guguak, Tuanku Nan Garang dari Lubuak Batingkok, dan Tuanku Halaban yang kemudian diangkat Belanda menjadi Regen Halaban.
BUPATI LIMA PULUH KOTA
Dalam sejarah pemerintahan Limapuluh Kota pertama kali dipimpin oleh Syahfiri Sutan Pangeran sejak 8 Oktober 1945 dan dalam pelaksanaan hariannya dijabat sementara oleh Dr.Adnan ,WD, pada 23 Januari 1946 dijabat oleh Bagindo Moerad sampai tahun 1947,kemudian digantikan lagi oleh Alifuddin sampai akhir tahun 1948, dan dilanjutkan oleh Bupati Militer Arisun St. Alamsyah dan setelah beliau gugur di Situjuh pada tanggal 15 Januari 1949 digantikan oleh Bupati Militer Saalah Sutan Mangkuto yang menjabat tahun 1949, kemudian dilanjutkan oleh Bupati Sultani Sutan Malako selama setahun (1950). Dalam masa stabilitas politik nasional yang belum stabil maka Limapuluh Kota dipimpin oleh H. Darwis Dt. Tumangguang yang memimpin Kabupaten Limapuluh Kota selama 5 tahun ( 1950- 1956). Syahboedin Latif Dt. Si Bungsu melanjutkan kepemimpinan Darwis dari pertengahan tahun 1956-1957.
Dalam catatan
sejarah kepemimpinan di Kabupaten Limapuluh Kota Akhmad Khatib memimpin
Limapuluh Kota tahun 1957, pengantinya adalah Anwar Dt.Majo Basa nan Kuniang
(1957-1958) dan kemudian dilanjutkan oleh Zainal Abidin St. Sarinado dari tahun
1958-1959. Antara tahun
1960-1961, Kabupaten Limapuluh Kota dipimpin Inspektur Pol.S.M. Djoko, yang
kemudian antara tahun 1961 sampai 1967 Limapuluh Kota dipimpin oleh Letkol.
Inf.Slamet Suhindrio, yang kemudian dilanjutkan dengan periode
kepemimpinan Kol.Inf.A.Syahdin Dt.
Bandaro periode 1967 sampai tahun 1973
Tahun 1973-1974
Limapuluh Kota dipimpin oleh PJS Bupati Drs. Saruji Ismail, dan kemudian
digantikan oleh Kol. Inf. H. Burhanuddin Putih selama dua periode yakni periode
pertama 1975- 1980 dan periode kedua 1980- 1985. Selanjutnya digantikan oleh
Kol.CZI Djofri satu kali periode 1985-1990. Drs. H. Aziz Haily,MA Dt.
Bandaro Kayo menjabat Bupati Limapuluh
Kota dua periode yakni periode pertama tahun 1990-1995 dan periode kedua
1995-2000.
Asal usul Luhak Limo Puluah Koto
Posted on 1 April 2009 by harifzah
Sekelumit Tentang Luhak Limo Puluah Koto
Dari Niniak Nan Balimo (nenek yang berlima) yang meninggalkan rombongan telah membuat tempat kediaman baru yaitu Kuok, Bangkinang, Salo, Rumbio, Aia Tirih. Sebagai daerah Luhak Lima Puluh Kota adalah Kabupaten Lima Puluh Kota sekarang.
Sejarah ini di ambil dari Minangkabau(dot)info via http://nagarisitujuahgadang.wordpress.com
Luhak Limo Puluah Koto disebut juga luhak nan bungsu karena luhak ini adalah luhak yang terakhir berdiri di Minangkabau. Ungkapan khas luhak ini “buminyo sajuak, aianyo janiah, ikannyo jinak”. Ini menggambarkan masyarakatnya yang homogen dan penuh kerukunan, memiliki ketenangan dalam berpikir.
Asal usul Luhak Limo Puluah Koto:
- Dahulu di puncak gunung Merapi terdapat 3 buah luak (tempat mengambil air dari lobang yang di gali di tanah) atau lazimnya di sebut sumur, namun luhak ini dangkal, sedang kan sumur kebanyakan dalam, salah satu dari luak yang ada itu menjadi tempat minum 50 keluarga. Kemudian yang 50 puluh keluarga ini mereka pindah ke sebelah timur gunung Merapi dan memberi nama tempat baru itu dengan Luhak Limo Puluah, kemudian ditambah dengan kata “koto” di belakangnya.
- Berangkat sebanyak 50 orang dari Pariangan. Sampai di suatu tempat mereka bermalam. Pagi-pagi ternyata anggota rombongan kurang lima orang, entah ke mana. Jadi anggota rombongan telah berkurang (luhak). Lalu anggota rombongan yang tinggal membuat daerah baru yang diberi nama Luhak Limo Puluah Koto.
Lima Puluh Kota terdiri empat bagian. Keempat wilayah tersebut adalah:
a. Sandi
Daerahnya
dari Bukit Sikabau Hilir sampai Muaro Mudiak, Nasi Randam hingga Padang
Samuik ketepi yang meliputi Nagari Koto Nan Gadang dan Koto Nan Empat
sekarang ini.
b. Luhak
Luhak
daerahnya dari Mungo Mudiak hingga Limbukan Hilia, Mungo, Koto Kaciak,
Andaleh, Tanjuang Kubu, Banda Tunggang, Sungai Kamuyang, Aua Kuniang,
Tanjuan Patai, Gadih Angik, Limbukan, Padang Karambia, Limau Kapeh, Aia
Tabik Nan Limo Suku.
c. Lareh
Yang
menjadi wilayah lareh sejak dari Bukik Cubadak sampai mudiak hingga
Padang Balimbiang Hilir. Pusatnya di Sitanang Muara Lakin. Perkembangan
dan perpindahan penduduk selanjutnya lahir nagari-nagari Ampalu,
Halaban, Labuah Gunuang, Tanjuang Baringin, Kurun, Labuak Batingkok,
Tarantang, Sari Lamak, Solok, Padang Laweh.
d. Hulu
Yang
termasuk wilayah hulu dalam Luhak Lima Puluh Kota adalah yang
“Berjenjang Ke Ladang Laweh Berpintu Ke Sungai Patai, Selilit Gunuang
Sago, Hinggo Labuah Gunuang Mudik Hinggo Babai Koto Tinggi”.
Dari
Luhak Lima Puluh Kota perkembangan selanjutnya ke Muaro Sungai Lolo,
Tapus Rao Mapattunggal, Kubu Nan Duo, Sinuruik, Talu Cubadak, Simpang
Tonang, Paraman, Ampalu, Aua Kuniang, Parik Batu, Sasak, Sungai Aua, Air
Balam, Sikilang Aia Bangih.Dari Niniak Nan Balimo (nenek yang berlima) yang meninggalkan rombongan telah membuat tempat kediaman baru yaitu Kuok, Bangkinang, Salo, Rumbio, Aia Tirih. Sebagai daerah Luhak Lima Puluh Kota adalah Kabupaten Lima Puluh Kota sekarang.
Sejarah ini di ambil dari Minangkabau(dot)info via http://nagarisitujuahgadang.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)




